November 23, 2019

Ekonomi Singapura Berhasil Menghindari Resesi Dengan Catat Pertumbuhan 0,5 Persen

Setelah beberapa kali terancam akan memasuki jurang resesi, akhirnya Singapura berhasil menyelamatkan diri dan memulihkan ekonominya dengan mencatatkan pertumbuhan 0,5 persen yang dimana lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan untuk kuartal III 2019.

PDB Singapura naik 0,5 persen secara tahunan. Angka ini sesuai dengan hasil jajak pendapat dari Reuters yang lebih tinggi 0,1 persen.

Pemerintah Singapura turut mengubha proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 0,5 persen hingga 1 persen dari yang sebelumnya 0 persen hingga 1 persen.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gabriel Lim menyatakan bahwa terdapat stabilitas dalam ekonomi global walaupun pertumbuhan yang dirasakan masih cukup lemah.

"Sektor manufaktur Singapura juga bekerja lebih dari harapan," jelasnya.

Lebih rinci, pada periode Juli hingga September 2019, ekonomi Singapura tumbuh 2,1 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan dari analis yang hanya berada di angka 0,6 persen.

Ekonomi Singapura Berhasil Menghindari Resesi Dengan Catat Pertumbuhan 0,5 Persen

Sebelumnya, ekonomi Singapura melemah karena akibat dair perang dagang yang tidak berunjung antara China dan AS. Akibat dari perang dagang ini, ekspor Singapura mengalami penurunan tajam sehingga memperlambat perekonomian negara.

Kondisi ekonomi glolba saat ini yang melambat dan diliputi ketidakpastian ini membuat beberapa negera mengalami resesi seperti Argentina dan Turki.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia sangat optimis bahwa perekonomian nasional tidak akan memasuki resei walaupun kondisi global yang melambat.

Resesi adalah kondisi dimana pertumbuhan ekonomi berada pada posisi negatif selama dua kuarta berturut-turut.

Dia menjelaskan bahwa hal ini terlihat dari struktur neraca perdagangan yang pada bulan Oktober masih mengalami surplus walaupun tipis. Akan tetapi jika dilihat secara global, komposisi dari ekspor dan impor masih juga seimbang.

"Kalau dilihat dari komposisi ekspor dan impor ini masih berimbang dan konsumsi rumah tangga masih dapat dipertahankan," jelasnya.

Ditengah kondisi global seperti saat ini, meningkatkan ekspor menjadi salah satu keharusan yang dilakukan jika ingin selamat dari jerat resesi. Akan tetapi hal ini sangatlah sulit dilakukan mengingat hampir semua negara tengah mengalami walaupun Indonesia sejauh ini dapat bertahan dan mengatasi hal tersebut.

Iskandar mengungkapkan bahwa pelemahan pada kinerja ekspor juga terjadi akan tetapi terbantu oleh impor yang penurunannya lebih tajam. Selain itu kinerja ekspor juga didukung oleh konsumsi rumah tangga yang sampat saat ini memiliki kontribusi besar untuk pertumbuhan ekonomi. Sejauh ini, kontribusinya mencapai 54 persen.

"Kita dapat mengantisipasi pelemahan ekonomi global dan menambah pertumbuhan ekonomi ketika perekonomian global menurun sehingga sulit melakukan ekspor sehingga kita berdayakan pasar domestik kita. Barang yang mengalami pelemahan ekspor kita jual ke dalam" ujarnya.

Salah satu contoh adalah percepatan program B30 yang akan menggunakan CPO yang dihasilkan dalam negeri sebagai campuran dari bio diesel.

"Itu akan meningkatkan penghasilan dari para petani sawit. Petani akan memperoleh harga yang lebih tinggi sehingga meningatkan daya beli mereka. Ketika daya beli naik, konsumsi barang yang dihasilkan industri dalam negeri juga ikut naik nantinya," ujarnya.

"Makanya saya cerita tadi kita tidak akan jatuh seperti negara lain," tambahnya.

Berikutnya adalah upaya pemerintah dengan menurunkan suku bunga KUR atau kredit usaha rakyat yang langsung berdampak ke masyarakat. Pemerintah memutuskan untuk menurunkan bunga KUR dari 7 persen menjadi 6 persen untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

"Faktor kunci kita adalah cepat mengambil kebijakan pencegahan untuk mengantisipasi perubahan global, setidaknya BI sudah menurunkan bunga sebagai respon ketika tahu gejala adanya pelemahan global termasuk juga pemerintah menurunkan suku bunga KUR," tutupnya.