October 1, 2019

Pemilihan Ketua DPD Sempat Heboh Karena Ada Suara Siluman

Proses pemilihan Ketua Dewan Perwakilan Daerah untuk masa jabatan 2019- 2024 diwarnai perdebatan. Perdebatan tersebut terjadi pada saat anggota DPD melakukan voting untuk menentukan calon ketua. Proses ini menjadi agenda utama dalam rapat paripurna ketiga untuk pemilihan Ketua DPD RI.

Sebelum voting dimulai, jumlah anggota yang hadir dalam rapat dan akan mengikuti proses pemilihan Ketua DPD adalah sebanyak 132 dari 136 anggota. Tetapi, ketika surat suara dihitung, terdapat 134 orang yang memberikan suara.

Beberapa anggota DPD yang hadir mengajukan protes dan mempertanyakan asal usul dua suara tambahan tersebut.

Pemilihan Ketua DPD Sempat Heboh Karena Ada Suara Siluman

"Bagaimana prosesnya dia ketambahan, karena dari awal dilakukan pengecekan itu ada 132 orang akan tetapi ketika pemunggutan terdapat 134 orang. Oleh karena itu, kami mohon penjelasan secara rinci dan jelas dari pimpinan sementara," kata salah seorang anggota DPD yang menginterupsi pemilihan tersebut.

Beberapa anggota lainnya juga menyuarakan hal yang sama. Mereka berpendapat bahwa seharusnya jika ada penambahan yang akan memberikan suara sebelum dan ketika voting harus diinformasikan ke seluruh anggota yang hadir supaya tidak terjadi kesalahpahaman antar anggota terutama para calon ketua yang akan dipilih.

Para anggota DPD menganggap bahwa pimpinan sidang dan kesekjenan telah lalai atas hal ini. Mereka pun meminta pimpinan untuk meminta maaf untuk kesalahan ini.

Menyikapi hal ini, pimpinan sidang pada paripurna ketiga tersebut, Jialyka Maharani meminta maaf. Dirinya mengakui adanya kesalahan dengan tidak menginformasikan dua anggota DPD yang terlambat datang setelah pengumuman jumlah anggota yang dilakukan pertama kali.

"Saya mohon maaf kepada bapak ibu karena terdapat disinformasi," katanya.

Rapat pun dilanjutkan dengan 134 anggota yang memberikan hak suara mereka yang akan dihitung satu per satu.

Para anggota DPD tersebut akan memilih empat kandidat yaitu La Nyalla Matalitti, Sultan Bachtiar, Nono Samporno dan Mahyudin.